Senin, 23 April 2012

Mall Juga Punya Rasa


Yoah itu... terkadang sangat menakjubkan.
 Maksudku, aku bisa dibuatnya terbengong-bengong heran atas bagaimana responnya terhadap suatu hal.

Nut: *Mengulurkan wafer, "Mau? enak loh..."
Yoah: *ragu-ragu, tapi kemudian mencobanya satu, beberapa saat kemudian, "Ya ampuun, ini wafer apa?!"
Nut: "Emang kenapa?" *keheranan
Yoah: "WAFER INI RASA MALL!"
Nut: *keselek. "Kok.. kok bisa?"
Yoah: "Iya, beneran! aku jadi inget mal. Rasa apa sih ini?"
Nut: -_-" "Ini rasa tiramisu Geblek!"

Akhirnya aku paham, kini setiap melintas di mall dan tercium perpaduan dari aroma kopi, mocca, dan coklat di beberapa coffeshop, aku selalu mengendus dan berseru, "Rasa Mall!"

Pembekalan KKN


... adalah pembekalan KKN. Apakah Anda tahu, Saudara-Saudara? satu-satunya yang tidak dimiliki mahasiswa asing adalah betapa menyenangkannya melaksanakan program KKN. Libur semester panjang menuju semester tujuh ini, aku bertekad abdikan seluruh raga demi masyarakat desa, aku dedikasikan ilmuku untuk program KKN kampus tercintaku.

Jadi, marilah pertama-tama selesai UTS, di Minggu cerah yang seharusnya santai kayak di pantai, kita tunaikan kewajiban mengikuti pembekalan KKN.

 Apa itu pembekalan KKN?

a. piknik bersama angkatan 2009 di halaman Fakultas Filsafat
b. pelatihan membuat bekal ala Jepang 
c. pelatihan mengemas ransum
d. pengisian materi seputar KKN oleh lembaga-lembaga yang terkait.

Jawabannya d, Delta Saudara-Saudara...

Dalam pembekalan kali ini terdapat 5 sesi untuk 5 macam materi hari ini. Mulai jam setengah delapan pagi buta sampai jam satu siang bolong. Untunglah, fyuh, dari 5 presentasi, 4 di antaranya lumayan segar, dan 1 sisanya aku sudah bosan dan cemilanku kebetulan habis. 

Jadi, hari ini aku datang pembekalan layaknya piknik, saking takutnya di tengah-tengah kebosanan yang mendera saat presentasi berlangsung, perutku menjerit jerit. Tanpa sempat sarapan aku buru-buru belanja: satu botol sedang air mineral, sekotak biskuit abon, dua buah apel, satu buah pir, dua kerat wafer coklat krispi. Karena memang sebelumnya, dianjurkan panitia pembekalan untuk bawa bekal dan boleh ngemil di kelas, jadi tak kan kusia-siakan momen ini. Tapi, begoknya lugunya aku, panitia tak sampai hati tak memberi jam istirahat barang sepuluh menit.

Nut: "Hai, ikutan!" *memanggil sekawanan anak golongan darah ABO yang hendak berburu sarapan.
B : "Bukannya kamu sudah makan Nut dari tadi?" *mungkin dia liat aku beli roti keju dari temen yang masih sempet jualan untuk dana KKN.
Nut: "Hehehe..." *inosen "Kan belum afdhol kalo' ga' makan nasi.."

Sampailah perburuanku pada sekantong kecil penthol kecap dan sekotak nasi.

Sebenarnya, pembicara-pembicara yang masuk kelas kami cukup menyenangkan. Namun sialnya, kelas kami sangat gaduh. Aku di kursi barisan kedua, terdepan (karena kursi barisan pertama kosong), sibuk menyimak sambil sesekali menggigit cemilan sambil sesekali meneguk minuman sambil sesekali mencatat nomor hp relasi di buku catatan. 

Materi 1: Prosedur Tes Kesehatan dan Pelayanan Kesehatan

Nut: "Lin.. kayaknya muka mbaknya ga' asing deh ya.. staf front office kampus po ya? atau mana ya?" *berkomentar sambil mengamati mbak-mbak manis yang bertugas sebagai operator power point.
Lin-Lin: "Masa'?"

Lalu pembicara pun, seorang wanita berjilbab coklat, mengenalkan diri atas nama klinik kampus.

Nut: "Astagaa...." *berbisik lirih.
Lin Lin: "Pantes familiar.. orang kamu langganan mereka.."
Nut: -__-"

Materi kesehatan ini cukup menghebohkan, karena ibu pembicara yang sabar dan tabah itu menjelaskan berbagai hal dengan nada datar...

Bu Pembicara: "Bedanya mahasiswa KKN dan reguler, kalo ada kematian, mahasiswa KKN dapat santunan kematian. KKN yang lalu sudah ada 4 laporan kematian..."
Kelas: "Hoooo..." *gaduh karena seram

Bu Pembicara: "Hal hal medis yang tidak kami tanggung adalah, biaya kontrasepsi dan biaya sunat bagi laki-laki.."
Kelas: "Hooo...." *koor tapi sibuk dengan otak masing masing.

Bu Pembicara ini pun juga menjelaskan cara-cara yang tepat dalam pertolongan pertama pada kecelakaan, seperti luka bakar yang harus direndam air shampo dingin, sampai dengan pingsan karena tenggelam harus segera diberi ciuman napas buatan.

Selanjutnya yang tambah bikin heboh adalah materi ketiga mengenai filosofi KKN. Karena pembicara adalah dosen filsafat dan beliau berbakat ikutan stand up comedy, kelas pun gaduh berkali kali lipat. 

Pak Pembicara: "Karena yang lain berbicara soal fisik dan teknis, maka saya akan jelaskan hal-hal yang metafisik...."

Begitulah beliau memulai presentasi dengan slide yang tidak berurutan dan harus dibaca dari kalimat terbawah lalu naik ke atas. Karena saking banyaknya Mbejog tertawa, Mbejog sampai bingung harus tuliskan komedi bapaknya yang bagaimana. Yang jelas bapak filsafat satu ini luar biasa menghibur dan jenius. d^^b

Minggu, 22 April 2012

Cemilan Baru ala Maaggie


Maag akut membuatku memikirkan ulang konsep gaya hidup yang sehat. Jadi selama ini gaya hidup mahasiswa itu.. err, terpaksa aku bilang; susyah-untuk-sehat. Hidup mahasiswa itu lebih banyak didominasi oleh begayaan begini begono. Maksudku, kadang kita mahasiswa bisa begaya ala aktivis, demo sana sini padahal sih ga paham paham amat sebab muasal tereak tereak kepanasan, lalu begaya sok borjuis, nongkrong di kafe sana sini padahal masih ngutang di angkringan, ada pula begaya jadi mahasiswa intelek, padahal 99% kutipan di makalah hasil dari adopsi langsung di Wikipedia.

Jadi nih ya, aku pun ikut begaya-begayaan sok sehat sok sibuk. Yah jadi nih ya, hahaha, aku begaya jadi filsuf, mikir yang berat-berat, jadi deh begaya sakit maag akut. Jadilah aku kalo ditanya, inginnya sih sangat kalem. Umpama begini:

"Lo kemaren sakit apa?"
"Gastritis"
"Buset, apaan itu?"
"Semacam kontraksi perut"
"Wedeh, lo ngelahirin?"
"Bukan Dodol! itu rasanya menderita MAGH PARAGH"
"Oh.."

Dan itulah mengapa aku tidak lagi sungguh-sungguh simpati pada iklan tahunan tiap Ramadhan yang dibintangi Dedy Mizwar. Promag sumpah-demi-perut tak akan pernah mujarab. Lalu yang paling mengenaskan adalah asupan sambal sangat berkurang drastis. Ibarat cabe naik harganya seribu kali lipat, begitulah aku mengkhianati petani cabe. Aku menjauhinya dan aku diam diam berselingkuh dengan bubur ayam ga' pake kuah. 

Sebenarnya, ini semua demi anakku kelak. Alibi ini selevel alibi tingkat visioner. Maksudku, ayolah, bayangkan saja tiap maag ini kumat, ugh! rasanya hidup dan mati beda tipis. Kau hanya bisa meringis dan berguling guling di kasur tanpa alasan yang jelas. Kau harus menikmati satu persatu napasmu yang sesak dan perutmu yang mengembung keras seperti ikan fugu, dan punggungmu yang rasanya tergilas truk, dan otot perut yang tegang, disertai kram luar biasa. Ini semacam kontraksi, eh. Jadi, kadang aku cemas kalau terlalu banyak kumat, aku tidak akan sempurna merasakan kontraksi saat bersalin kelak. Dan aku tak akan sempurna menjadi seorang ibu yang penuh pengorbanan.

Kadangkala, reaksiku adalah pasrah tak berdaya apa adanya dan bersahaja saat aku harus diculik dan dibawa ke IGD. Tapi percayalah, berkali-kali aku kesana tak pernah aku paham sekali pun mengapa namanya berubah dari UNIT GAWAT DARURAT menjadi INSTALASI GAWAT DARURAT. Maksudku, seni instalasi cukup keren dan memikat, lain halnya dokter yang biasa mengabaikanku di IGD.

Jadi saat terakhir kalinya aku kambuh, whoa! satu-satunya yang dapat menghiburku di ruang IGD adalah pertanyaan khas dokter hampir ke semua pasien di sebelahku, termasuk aku:
"Eeknya gimana?"

Di tengah bermacam-macam keluhan, dokter di rumah sakit rujukanku itu sangat gemar bertanya tentang "eek" dan aku curiga ia punya minat khusus pada benda berharga satu ini.

Dokter: "Eeknya gimana Mbak?"
Nut: "Eh..?"
Dokter: "Normal bentuknya? susah atau gampang?"
Nut: "Eh...?"
Dokter: "Tadi masih sempat eek?"
Nut: "Ehhhhhh.......?"

Dalam kondisi lemas bagai kertas, aku hanya berusaha menghayati sepenuh hati penderitaan perutku, memikirkan para anak gizi buruk di Somalia atau Nigeria atau Zimbabwe sedangkan aku menyia-nyiakan enaknya beras impor. Sedangkan urusan "eek" aku bahkan lupa sama sekali. Dan bagi dokter tersebut, ia bagaikan arkeolog yang menunggu kabar artefak terbaru.

Saat kesehatan mulai membaik aku pun mulai mengatur strategi baru. Maksudku, selama ini oh-please-deh-generasi-ababil, aku seringkali mengabaikan apa itu kecanggihan Google dalam menasehati masalah kesehatan. Aku telusuri artikel-artikel maag dan macam macam terapi serta rintangannya, lalu kudapati bahwa BENGKOANG adalah umbi-umbian super-duper-ajaib.

Sejak saat itu, kudeklarasikan di status facebook cemilan utamaku adalah BENGKOANG

Wahai Mahasiswa setanah air sebangsa sepresiden, khasiat bengkoang selain dapat menjadi rujak manis dan es buah, ia dapat mengurangi asam lambung, mendinginkan perut, menyelamatkan dehidrasi, pengganti karbohidrat skala kecil, memperkuat tulang, melancarkan sembelit, menyukseskan diet, dan yang terpenting KULITMU AKAN SEPUTIH CITRA.

Sekarang pun aku sedang mengudap bengkuang gajah yang lezat dan segar, kraus.. kraus... Anda mau?


P.S: no sambal pedas, no banyak S (santan,soda,saus,es) no banyak MSG, NONONO Mie Instan! ...err, kalo' yogurht masih dipertimbangkan, aku sedang ajuin banding ke Mahkamah Agung. 
Yes abon, yes nasilembek, yes buryam, yes kerupuk, YES BENGKOANG.

kadang saat aku tersiksa dengan pantangan-pantangan ini, aku teringat pada perjuangan Lin Lin mengatasi jerawatnya dengan pantangan belasan kategori makanan. :')