Minggu, 27 Mei 2012

Pendopo Mblusuk

Salah satu alasan mengapa aku sangat menyukai Jogja adalah beberapa acara seninya sangat bersahaja, hangat, dan tentu saja, murah meriah. Kamu bisa menemui pemusik aneka instrumen di Malioboro, jazz tiap Senin yang selalu gratis, galeri yang terus buka dengan gratis pula, teater outdoor, dan pengajian non mainstream sampai subuh. 

Tetapi selain resiko pulang malam dan masuk angin, aku belajar satu hal lagi. Apa pun acaranya, baik itu ke utara maupun selatan, Jogja *coret maksudku, bersiaplah untuk nyasar. Hoah! ini aku alami dengan penuh penghayatan, sampai hapal betul bahwa tidaklah mungkin kita bertanya arah cukup dua kali di jalan dan cukuplah aku mupeng dengan konsep hunian ideal: mblusuk, jalan berkerikil, dan berpendopo.

Bagaimana pun juga, aku berjiwa seniman-wati. Dan kurasa, aku dan kebanyakan orang memaklumi mengapa banyak seniman membangun rumah di pedalaman. Oleh karena itu, kuharap aku ditakdirkan menjadi seniman yang buka lokasi outbond di tempat terpencil. Yah, maksudku, kau tahu kan pikiranku tidak jauh-jauh dari kepedulian sosial dan ceileh, kebersamaan komunal? Haha, ketawa deh, aku suka membatin di suatu lokasi penuh ukiran jawa yang ayem gitu, sambil membayangkan suatu saat aku akan mengadakan halal bihalal lebaran di sana.

Astaga, aku adalah anak, kerabat, cucu yang budiman. Right?

Ada dua pengalaman yang membuatku kini memaklumi pola acara di Jogja yang berkaitan dengan pendopo mblusuk. Yah, kita tetapkan saja ini sebagai genre pendopo mblusuk. *Dan hal ini juga bisa dikaitkan dengan lokasi kondangan: gedongan, hotel, tenda pinggir jalan desa, atau di pendopo mblusuk.

Pengalaman pertama

Loc: Bantul mblusuk. *Tahu Bantul kan? wilayah DIY yang segeluas gambreng. Ada beberapa ringroad, terminal nun jauh di sana, Imogiri tempat makam raja-raja, ada Parangtritis, dan ada... Kasihan *nama kecamatan yang melankolis.
Hajat: hadir di acara sastra
Partner tebengan: Yoah
Waktu: MALAM MINGGU

Demi apaan deh ya... *aku tahu, demi keseloan belaka, aku sedikit memaksa Yoah yang sumpah lagi pegel setengah badan, untuk menemaniku ke acara tersebut. Sebenarnya tidak kaget menjumpai dia mengiyakan karena ia pasti sedang tidak ingin membuatku ngambek, kita berantem, dan berakhir di mall nyoba satu satu sepatu. 

Sejujurnya, aku kurang paham dimana tepatnya lokasi acara. Yang aku tahu, itu di Kasihan. Sebuah daerah yang penuh dengan rumah seniman dan budayawan, sampai aku bertanya-tanya, "demi apa semua sepakat kumpul dan bikin rumah dalam satu kampung di Bantul?" dan begoknya, aku hanya mengira-ngira. Sesampai di perjalanan, astaganaga, aku baru sadar Kasihan maha-luas-saat-malming. Sedikitnya ada setengah lusin kali kami bertanya ke orang.

Nut: "Nuwunsewu, tau Senthong Seni Srengenge mboten Bu?"
Ibu-Ibu: "Hah? Senthong? Genthong kali Mbak.."
Nut: "Iya kali ya.. Bu," *lugu.

Aku dan Yoah hampir saja disesatkan ke daerah Bantul lainnya, yakni Kasongan (mungkin atas dasar spekulasi si Ibu mengenai keterhubungan genthong dan sentra industri gerabah). Alhasil, malam minggu yang biasa diisi dengan mengintegrasikan diri ke keramaian kota, ujung-ujungnya kami blusukan di desa yang sepi gundah gulana serta gelap. Sepanjang jalan, didominasi dengan pepohonan, dan rumah-rumah sederhana. Aku yang tadinya antusias dan over percaya diri pada naluri senimanku kini mulai lemes, berkali-kali memandang langit penuh bintang. *mendadak melankolis, dan tidak sampai pada level menggubah syair.

Nut: "Kata bapak angkringan, kita suruh cari lapangan, terus gapura, terus pohon asem.."
Yoah: "Hm.."
Nut: "Eh, itu lapangan!" *heboh
Yoah: "Mana?"
Nut: "Yah, kelewatan.. tadi.."
Yoah: "Ga' ada lapangan."
Nut: Ada!"
Yoah: "Ga ada..."
Nut: " Ada kok.. sumpah! ayo balik, ini udah kejauhan.."

Yoah manut. Dan kita berhenti di pinggir tanah lapang bekas sawah panen dengan garing.

Yoah: "Ini bukan lapangan Geblek!"
Nut: "Hehe..." *inosen
Yoah: "Dibilangin kok.."
Nut: "Maaf... aku ga' merhatiin. Ga' ada gawang bolanya ternyata."
Yoah: -_-"

Semakin lama, aku semakin gundah di jalanan desa yang gelap. Terlebih lagi, Yoah membisu dan aku harus berkali kali tanya, "kamu marah ya sama aku? maaf.. harusnya.. aku.." *udah mau netes. Dan memang jadi netes beneran, hahaha, norak banget deh. Aku tiba-tiba seperti anak kecil yang takut tersesat *padahal jago nyasar* dan tiba-tiba takut kami sampai di kabupaten lain dan ini merupakan malam minggu terburuk dan terjauh di dunia! Oke, berlebihan. Tapi sumpah, aku hampir nyerah. Berkali kali aku merengek pada Yoah untuk pulang saja. Dan sekarang kebalik, ah ya.. seperti biasa dia yang balik antusias. Entah semangat darimana, ia tiba-tiba menjadi tampak heroik dan gentleman di pedalaman Bantul daripada di Mcd.

Sampai jalan yang semakin menanjak dan penuh bambu, kami tercerahkan atas petunjuk jalan orang jaga ronda malam. Dan begoknya, jalan setapak pendopo mblusuk itu sudah kita lewati sebelumnya dengan ragu-ragu. Maksudku, motor aja susah lewat apalagi mobil. Sebuah mobil juga menuju rumah jalan setapak itu, dan aku sudah paranoid, dan berdoa semoga kami tidak diculik dan disekap orang dalam mobil yang menatap kami dengan misterius. Dan ternyata banyak sekali orang yang tersesat pada malam penuh bintang itu.

Lantas, setelah kejadian tersebut aku lebih bijak dalam menyikapi situasi tidak menentu dalam pencarian pendopo mblusuk.

Pengalaman kedua
Loc: Sleman mblusuk, Kaliurang, Hargobinangun. Pasti familiar kan? maksudku semenjak Tv-one heboh mengabarkan erupsi Merapi, daerah ini sangat populer disebut-sebut.
Hajat: Technical meeting pelatihan menulis
Partner tebengan: Bita
Waktu: MINGGU PAGI

Demi apaan deh... *demi gratisan, aku rela bangun pagi di hari Minggu selain untuk jalan jalan ke Sunmor (pasar Minggu UGM). Sialnya, aku pun baru tidur jam tujuh pagi, dan TM dijadwalkan pukul sepuluh pagi. Maksudku, yah, aku mau beralibi dong, begadang itu boleh saja kan saat malam minggu? Alhasil, Bita cekikikan di depan kosku.

Bita: "Hihihi.. ampun dah Nut. Mukamu masih muka bantal."
Nut: "Sumpah? paraah..!" *langsung ngaca, panik, padahal udah mandi.
Bita: "Iya. Kamu kenapa e tidur dua jam doang?"
Nut: "Khataman"
Bita: "Oh.." *terpesona
Nut: "Hunter x Hunter"
Bita: -_-" "Kirain khataman Quran"

Selebihnya aku banyak diam karena mataku terpejam. Hingga di lampu merah, aku gelagapan. Teman bareng kami, menyapa Bita dan aku tersentak bangun. Aku berharap kejadian itu tampak elegan. Ternyata, oh ternyata... tempatnya lumayan jauh juga. Kami terus ke utara ke arah Merapi. Bertanya beberapa kali, tapi tidak seekstrem pengalaman di Bantul. Meski demikian kami masih nyasar juga hingga ke gerbang retribusi objek wisata serta jembatan baru pasca lahar dingin.

Lagi lagi petunjuknya: gapura dan pohon. Kali ini pohon kelengkeng. Dan aku takjub Bita peka terhadap vegetasi *padahal ia anak Hubungan Internasional.

Sampai juga kami di Omah Petruk. Melalui jalan beraspal yang bergeronjal, berkerikil. Dengan banyak pohon salak, bambu dan semak semak. Lokasi itu tepat di ujung jalan dan luar biasa bikin betah.

Bita: "Aku jadi pengen punya rumah kayak gini.."
Nut: "Ho oh"
Bita: "Yang pekaranganya luas" *jujur
Nut: "Seluas ini Bit?" *nunjuk kebun salak dan hutan bambu dengan nada ekstrem.





Sabtu, 26 Mei 2012

Sambutan Malam Minggu



Oke, selamat senja menjelang malam minggu. Para hadirin yang berbahagia, dengan sangat menyesal saya nyatakan; saya kembali disorientasi di sebuah cafe. Jujur saja, pertanyaan saya adalah; mengapa banyak lelaki muda bergairah lantas berkumpul untuk menghabiskan malam minggunya di sini?

Maksudku, kompetisi game apa sih yang lebih menyenangkan daripada menghirup udara segar di luar sana?

Saya yang merupakan wanita santun pencandu The Sims tidak tahu menahu bahwa Battle Squad Competition itu apaan? dan apa menariknya daripada main rumah-rumahan? Sialnya, cafe ini terhubung dengan bisnis raksasa pemiliknya, game online (yang bahkan di kala listrik mati, satu satunya yang masih benderang adalah tempat ini dan kampus saya). Sehingga, saya hanya melongo saat begitu banyak lelaki muda yang nongkrong di cafe sambil berdesus desus gaduh. 

Haduh.. dan hampir semua kursi terisi. Satu meja yang cukup lengang diisi dengan seorang bule tulen yang sibuk dengan laptop apel cuil-nya. Oh, betapa saya tidak enak hati. Saya mendapati fakta bahwa saya belum siap duduk berselancar di dunia maya bersama bule ciamik. Karena suatu alasan yang pasti: saya-belum-dandan.

Agak gugup saat saya terpaksa mengambil tempat di seberang bule. Dia terlihat begitu menawan saat lelaki-lelaki muda gamers-mania itu leyeh-leyeh, berisik, tiduran, dan kebanyakan tidak memesan apa-apa. Apa daya, saat berangkat saya mengidamkan pancake dan sialnya, makanan ringan itu habis. Saya yang biasa memesan kwetiauw, nasi goreng, dan nasi rica-rica mulai kebingungan.

Sebagai mahasiswi yang entah kenapa mengalami krisis percaya diri di depan bule, saya menilai makanan berat sangat tidak bergengsi. Dan akhirnya saya memesan chocolate shake, yang seharga dengan menu nasi. Betapa.. T.T

Sepuluh menit kemudian, bule itu, satu satunya objek hiburan saya, pergi. 
Ironis. 
Saat saya kelaparan. 

Tiba-tiba saya mulai tidak bernafsu mengerjakan sesuatu yang berkualitas seperti mengedit dan menulis dengan canggih. Saya mendapati serombongan lelaki mengucek mata dan mirip dengan saya; belum mandi sore. Bedanya, saya sudah cuci muka. 


Kamis, 24 Mei 2012

Sungguh Terlalu


Kepolosan Yoah seringkali menyebalkan. Aku masih saja terkejut mendapati komentarnya yang polos bin ajaib. Hal ini terbukti lagi saat kami berdua jalan-jalan ke mal, yang entah berapa abad lamanya tidak kami sambangi, dan kebetulan berniat menonton The Avengers


Yah, konsekuensi saat mengajaknya nonton kali ini adalah: 
1. Dia tidak tahu Marvel,
 2. Dia tidak kenal Johnny Deep, 
3. Dia lupa pada Joko Anwar.


 Sialnya lagi, setelah ditemani antri, ia akan menghilang di balik toilet pria, sehingga aku harus memutuskan sendiri dengan kebingungan bijak hendak menonton film apa, saat bioskop dipenuhi penggila superhero

Alhasil, terbeli sudah dua tiket Modus Anomali. Kau tahu? itu sejenis film thriller yang menyeramkan dan hanya bercerita di dalam hutan, sehingga mau tak mau, berkali kali aku menutup mata. Aku benci melihat adegan orang disayat seperti kambing kurban, apalagi membayangkan seseorang membuntuti lakon film dari belakang. 

Kebetulan pula, saat itu hanya terdapat segelintir penonton, sehingga membuat suasana semakin mencekam. Parahnya, Yoah sama sekali tidak setia kawan dalam menghadapi pasangan di sebelahnya yang berkali-kali memohon perlindungan. Ia-tanpa-ekspresi. Bahkan, ia tanpa kedip sambil mulut sedikit terbuka, terpesona melihat adegan per adegan yang menegangkan.

Dengan santai tanpa menoleh sedikit pun, ia menginstruksikan; "donat." Aku yang lebih mirip asistennya pun sibuk menghaturkan donat oreo bubuk. Film pun selesai dengan satu kesimpulan dari Yoah; nggak-jelas-aku-nggak-nyambung. Aku takjub, Yoah dengan antusias tingkat dewa masih saja kebingungan dengan alur dan konsep film. Padahal, *besar kepala dulu ah, aku justru paham bagaimana Joko Anwar secara brillian menulis naskah Modus Anomali lantas memfilmkannya dengan cukup ciamik.

 Astaga, padahal aku berkali-kali tutup mata. Tapi justru aku dapat mengulasnya lebih dalam dan pengertian daripada Yoah. Oh ayolah, Rio Dewanto sangat keren aktingnya, kecuali pada bagian berulang kali dia berteriak fuck. Maksudku, kosakata umpatannya terlalu monoton dan garing.

Selebihnya, fenomena yang sungguh terlalu terjadi saat aku menyedok yoghurt dengan lahap.

Yoah: "Apa itu..?" *menunjuk topping kiwi pada semangkuk kecil yoghurt plain.
Nut: "Eh..?"
Yoah: "Itu timun ya?" 
Nut: "AAAAARGGH, ini kiwi Yoah! Parah!"
Yoah: "Ah, bukan.. itu timun." *keras kepala
Nut: *&^%$#@!